ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”
:) Puisi Gie, judul tidak diketahui.
“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
Puisi GIE
http://kapasmerah.wordpress.com
Bila detak jantung masih tetap berdenyut
dan hati masih tetap dapat menganalisa pemikiran
aku masih mampu tuk melukis kisah hidupku
Bila pikirku masih bisa berpikir
sedang hatiku telah menjadi raja di hidupku
aku ingin tak kan nafsu yang menjadi pemenang
bila kehilangan dan keberadaan hadir dalam hidupku
kuingin kehilangan yang tak menyayat hatiku
dan keberadaan yang tak membuatku menjadi congkak
ku ingin hidup dalam keberadaan dan kehilangan
hingga seimbang syukurku dan kufurku
bahkan lebih
namun bila kehilanganku lebih dahulu mendatangiku
dengan sejuta rasa menyesak dada
biarlah hati dan pikirku mengikhlaskan kehilanganku
.........
Label: Puisi
entah mengapa diakhir-akhir ini
aku jadi sentimentil dan terkadang teringat akan masa dahulu
kau aku dan yang lainnya bermain dengan harmonisasi perbedaan
dan tercetus untuk selalu maju bersama
membangun peradaban dinegeri yang katanya beradab
peradaban yang kita bangun dari ruang berpikir
pertanyaan yang tak pernah usai dariku
pentingkah mempertentangkan perbedaan
sedangkan perbedaan adalah satu warna yang memendarkan bermacam warna
sehingga ada banyak warna dialam pikir kita
.........
seiring waktu berjalan
kini aku menyukai pelangi berpikir yang pernah terjadi.
Label: Puisi
Kau bertanya kepadaku
adakah cinta yang melebihi dari sayangku padamu
aku jawab cintaku tak pernah bisa melebihi sayangku padamu
kau tanyakan lagi adakah kasih yang melebihi sayangku padamu
kujawab lagi kasihku yang tulus hanyalah untuk kekasihku yang abadi
kau tanyakan lagi kenapa aku begitu
bernyanyi dalam kata dan berkata dalam syair
tak ada yang melekat dalam benakku untuk menjawab pertanyaanmu
hanya terlintas dalam pemahamanku
cintaku pada sesuatu yang berwujud dan kasat mata
sayangku pada sebentuk hati yang tulus di jiwamu
kekasihku telah abadi dihatiku dan takkan bergeser
sampai kau dan aku mengerti hakikat hidup yang sesungguhnya
Label: Puisi
Maafkan...
Bila ku tak pandai merangkai kata indah
tuk mewakili diriku d hadapmu
maafkan...
bila kau tersiksa dengan mengucapkan kata-kata
bersyair tak sempurna diatas papyrus ini
maafkan...
bila aku harus ak harus akhiri
lukisan tangan tak bersanjak ini
dengan seuntai kata
aku menyayangimu dengan sepenuh jiwaku
Label: Puisi
Label: Trend
Tambelan adalah salah satu Kecamatan yang masuk ke dalam wilayah Kab. Bintan yang merupakan salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Kepulauan Riau. Kabupaten ini dulu bernama Kabupaten Kepulauan Riau; penggantian nama menjadi Kabupaten Bintan disahkan dengan Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 2006.
Sultan Abdullah Mu'ayat Syah diangkat oleh Sultan Aceh sebagai Sultan Abdullah Mu'ayatSyah dan bersemayam di Batu Sawar. Pada tahun 1618, Sultan Abdullah Mu'ayat Syah berpindah ke Lingga (Daik) dengan meminta bantuan Belanda dan Orang Laut melawan Aceh.Pada tahun 1623, Aceh menyerang Pulau Lingga untuk memburu Raja Bujang (anak Sultan Alauddin Riayat Shah III).Sultan Abdullah Mu'ayat Syah melarikan diri bersama-sama Raja Bujang ke Pulau Tambelan. Sultan Abdullah Mu'ayat Syah mangkat di Pulau Tambelan disebut "Marhum Pulau Tambelan".
Nama-nama Pulau Tambelan:
Pulau Tambelan Besar
Pulau Tambelan Kecil
Pulau Benua
Pulau Pejantan
Pulau Kepayang
Kepulauan Badas
Pulau Uwi
Pulau Enggirang
Pulau Berdua
Pulau Pengikik
Pulau Mentebung
Pulau Pulau Pinang
Hanya sebuah perkenalan
- ERU
- Batam, Kepulauan Riau, Indonesia
- manusia yang masih belajar benar dan salah dan berusaha untuk menjadi lelaki akhir zaman